Tasikmalaya, Gentademokrasi.id — Peringatan 15 tahun Ark[1]lyz Indonesia ditegaskan bukan sebagai panggung perayaan usia organisasi, melainkan sebagai pernyataan sikap terbuka melawan budaya organisasi yang mandek pada simbol, jargon, dan retorika tanpa kerja nyata. Momentum ini menjadi penanda garis ideologis: menolak stagnasi, menolak basa-basi perjuangan.
Bertempat di Gedung Islamic Center (IC) Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (27/12/2025), Ark[1]lyz Indonesia secara terbuka menyatakan arah perjuangannya melalui tema “Berani Bermimpi, Berani Bertindak” sebuah sikap yang menuntut keberanian bersikap, kerja konkret, dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat, di tengah realitas organisasi kepemudaan yang kerap terjebak zona abu-abu.
Peringatan ini dihadiri jajaran pengurus Ark[1]lyz Indonesia dari berbagai daerah, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), perwakilan Bupati Tasikmalaya, Kejaksaan Negeri Tasikmalaya, perwakilan Polres Tasikmalaya, Polsek Singaparna, Koramil, serta berbagai elemen organisasi dan tokoh masyarakat.
Kehadiran Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Erry Purwanto, menegaskan pengakuan sosial dan politik atas eksistensi Ark[1]lyz Indonesia di ruang publik.Sebagai bagian dari komitmen praksis, DPP Ark[1]lyz Indonesia turut menyerahkan cendera mata kepada tamu undangan.
Namun lebih dari itu, organisasi ini menolak berhenti di podium. Aksi nyata diwujudkan melalui kegiatan bakti sosial dengan menyalurkan santunan kepada anak yatim dan lansia berupa paket sembako, sebuah penegasan bahwa organisasi harus hadir dan dirasakan manfaatnya, bukan sekadar tercatat dalam laporan kegiatan.
Sekretaris Jenderal DPP Ark[1]lyz Indonesia, Zhehan Thansaharyana, menegaskan bahwa usia 15 tahun bukan alasan untuk bersikap nyaman, apalagi jinak. Ia menyebut perjalanan Ark[1]lyz Indonesia telah ditempa dinamika internal, benturan gagasan, hingga tekanan eksternal, namun tetap konsisten berdiri sebagai ruang pengkaderan, pengabdian, dan perjuangan nilai-nilai kebangsaan.
“Ini bukan euforia seremonial. Ini alarm evaluasi. Ark[1]lyz Indonesia harus tampil sebagai organisasi yang kritis, solutif, dan berani bertindak. Bukan organisasi yang fasih berbicara, tetapi absen saat rakyat membutuhkan,” tegasnya.
Rangkaian peringatan diisi dengan refleksi perjalanan organisasi, penguatan arah gerak, serta penegasan garis ideologis Ark[1]lyz Indonesia ke depan. Fokus diarahkan pada pembentukan kader yang berintegritas, berani bersuara, responsif terhadap persoalan sosial, dan mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Memasuki usia 15 tahun, Ark[1]lyz Indonesia secara terbuka menyatakan penolakan terhadap stagnasi dan kompromi atas idealisme. Organisasi ini menegaskan kesiapan mengambil peran strategis menghadapi tantangan zaman dengan sikap tegas, kerja konkret, dan keberanian berpihak demi mendorong pembangunan sumber daya manusia yang berintegritas, berdaya saing, dan berpihak pada kepentingan publik.
(Redaksi GD | Biro Tasikmalaya)








