GD.ID, Jakarta-Camat Kelapa Gading Anita Permatasari didampingi Sekretaris Kecamatan Suci Chytia Polaputri serta Lurah Kelapa Gading Timur Nani melakukan panen sayuran dan ikan bersama dengan siswa dan siswi PAUD Wijaya Kusuma, RW 03 Kelurahan Kelapa Gading Timur, Kelapa Gading, Rabu (07/01/2026), di lahan urbang farming Kebun Cempaka RT 004 RW 003, Kelurahan Kelapa Gading Timur.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kasatpel Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP), para guru PAUD Wijaya Kusuma.
Camat Kelapa Gading, Anita Permatasari, menyampaikan apresiasi atas inisiatif PAUD Wijaya Kusuma dan warga RW 003 yang secara konsisten mengembangkan kebun urban farming.
“Kegiatan panen saat ini menjadi menarik karena keterlibatan para murid PAUD dalam mengisi kegiatan di luar sekolah atau di alam terbuka.
Adapun hasil panen yang dipetik bersama meliputi berbagai komoditas pertanian dan perikanan, antara lain terong, tomat, cabai, bawang merah, serta ikan nila.
Kegiatan ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan lokal, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang efektif bagi generasi muda,”ujarnya.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan konsep urban farming sekaligus menanamkan nilai cinta lingkungan dan kemandirian pangan kepada anak-anak sejak usia dini.
“Setelah panen dilaksanakan dilakukan juga edukasi terkait makan-makanan bergizi yang berasal dari sayuran, sehingga dapat memupuk anak sejak dini menggemari sayuran sebagai makanan sehari-harinya,”ujarnya.
Ditempat yang sama, Lurah Kelapa Gading Timur, Nani mengatakan, lahan urban farming yang berlokasi di Komplek RW 03, Kelurahan Kelapa Gading Timur (KGT), akan dikembangkan secara bertahap menjadi agrowisata mini. Untuk mewujudkan rencana tersebut, Lurah Kelapa Gading Timur, Nani, mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam memajukan potensi urban farming di wilayahnya.
Menurut Nani, total luas lahan kosong di lokasi tersebut mencapai sekitar 1.000 meter persegi, dengan 200–300 meter persegi di antaranya telah dimanfaatkan sebagai area urban farming. Ke depan, penataan kawasan akan difokuskan pada pemanfaatan lahan yang masih tersedia.
“Daripada lahan tidak terpakai dan menjadi lahan tidur, lebih baik kita manfaatkan melalui penataan kawasan wilayah,” ungkap Nani.
Ia menambahkan, pengembangan urban farming ini diharapkan dapat menjadi lahan hidup yang memberi manfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya di RW 03, serta dukungan dari berbagai unsur teknis dan pihak swasta melalui program CSR.
“Diperlukan kolaborasi dan koordinasi mulai dari jajaran masyarakat hingga unsur teknis, termasuk dukungan CSR agar seluruh rencana pengembangan dapat terealisasi dengan baik,” terangnya.












