GD. ID, JAKARTA— Medan berat, akses ekstrem, dan waktu tempuh yang berlipat tak menyurutkan langkah Tim Relawan PMI Jakarta Utara dalam misi kemanusiaan ke wilayah terdampak bencana di Kabupaten Gayo Lues, Aceh.
Selama 10 hari, relawan berjibaku menembus lima desa yang terisolir demi membawa harapan bagi warga.
Ketua PMI Jakarta Utara, Rizal, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam misi tersebut adalah akses jalan yang nyaris tak bisa dilalui kendaraan.
“Jalannya sangat sulit. Tapi semangat dan keikhlasan adik-adik relawan luar biasa. Mereka mampu menembus desa-desa yang terisolir. Lima desa berhasil kita jangkau,” ujar Rizal. Saat di konfirmasi gentademokrasi. id, Minggu (25/1/2026) di Kantor PMI Jakarta Utara.
Menurutnya, kehadiran PMI bukan semata soal bantuan materi, melainkan membangkitkan semangat warga dan pemerintah setempat.
“Bupati dan Wakil Bupati bilang, bukan harta yang kita bawa, tapi semangat dari PMI Jakarta Utara yang membuat mereka bangkit. Mobil-mobil rusak diperbaiki, relawan dikumpulkan, semua bergerak karena semangat itu,” katanya.
Rizal menyebut pengalaman di lapangan sebagai perjalanan penuh ujian, namun sarat makna.
“Kami jalan ke neraka menuju surga. Jalannya dahsyat, tapi surga menanti di sana karena kebaikan yang kita lakukan.”
Ia juga berharap pemerintah pusat dapat lebih serius memperhatikan persoalan akses wilayah bencana.
“Kalau melihat kondisi di sana, dua atau tiga tahun pun belum tentu selesai. Pemerintah pusat harus benar-benar ikhlas dan hadir untuk menolong.”
Relawan Pulang Lengkap, Harapan Terus Menyala
Sementara itu, Radian, Dewan Kota Jakarta Utara Perwakilan Penjaringan, menyampaikan rasa syukur atas kembalinya seluruh relawan Tim 21 dalam kondisi lengkap dan sehat.
“Alhamdulillah, semua relawan pulang tanpa kekurangan satu apa pun. Ini niat kemanusiaan murni,” ucapnya.
Ia berharap ke depan pemerintah dapat memaksimalkan upaya pencegahan bencana, tidak hanya di Sumatera, tetapi juga di Jakarta, khususnya Jakarta Utara yang kerap dilanda banjir.
“Kalau bisa jangan ada musibah lagi. Pemerintah harus memaksimalkan upaya pencegahan.” kata dia.
Radian juga menegaskan pentingnya menjaga soliditas PMI Jakarta Utara.
“PMI harus tetap solid, terus bersemangat, dan menjalankan misi-misi kemanusiaannya.” ujar dia.
“Mereka Bukan Hanya Bawa Logistik, Tapi Harapan” kata dia.
Hal senada disampaikan Epriyanto, Dewan Kota Jakarta Utara Perwakilan Cilincing. Ia menekankan bahwa pengabdian relawan bukan hal yang ringan.
“Sepuluh hari itu tidak singkat. Mereka meninggalkan keluarga, orang tua, dan aktivitas sehari-hari.” cetusnya.
Menurutnya, PMI tidak hanya membawa tandu, obat, dan logistik, tetapi juga harapan.
“Bagi dunia mungkin ini kecil, tapi bagi orang tua yang anaknya tertolong, bagi lansia yang dibantu berdiri, ini sangat besar. Di mata Tuhan, ini luar biasa.” kata dia.
Epriyanto berharap seluruh instansi pemerintah memiliki kesadaran kolektif dalam penanganan bencana.
“Kalau semua instansi merasa ini tanggung jawab bersama dan turun gotong royong, bencana tidak akan serumit ini.” kata dia.
Ia pun berharap pemerintah pusat dapat terus bersinergi dengan PMI dan masyarakat.
“Akses itu persoalan besar. Pemerintah pusat harus hadir, bersinergi, dan menggerakkan semua lembaga agar aktif membantu korban bencana.” jelas dia. (ANW)












