GD.ID, Serang – Industri perfilman tanah air akan segera kedatangan sebuah karya emosional yang mengangkat isu kesehatan mental dan dinamika keluarga. Sutradara, produser, sekaligus penulis skenario kenamaan dari rumah produksi Sinema Alexa Films Productions, Ardian S Perkasa, resmi mengumumkan kolaborasi terbarunya dengan talenta muda berbakat asal Serang, Syaul Anatasya.
Gadis remaja kelahiran 29 September 2010 yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP ini dipercaya menjadi sosok sentral dalam film berjudul “Kemana Aku Pulang”. Film ini diangkat dari ide cerita asli hasil kolaborasi antara Syaul Anatasya dan Ardian S Perkasa.
Mengangkat Realita Luka di Balik Dinding Rumah
Kemana Aku Pulang bukan sekadar drama biasa. Film ini membawa premis yang sangat dekat dengan realita banyak remaja saat ini: “Broken Home”.
Cerita berfokus pada Tasya (17), seorang remaja yang harus kehilangan figur ayah dan kehangatan keluarga kecilnya. Terjebak di rumah keluarga besar yang penuh tuntutan dan aturan kaku, Tasya merasa asing di tempat yang seharusnya menjadi perlindungannya. Film ini akan mengeksplorasi perjalanan emosional Tasya dalam memaknai arti “pulang” yang sesungguhnya.
Bagi Tasya, rumah bukan lagi tempat beristirahat, melainkan medan tempur untuk terus pura-pura kuat. Kami ingin menunjukkan bahwa ‘pulang’ bukan tentang alamat, tapi tentang kedamaian hati,” ujar Ardian S Perkasa dalam keterangannya.
Targetkan 2 Juta Penonton dan Mengajak Kolaborasi Investor
Melihat kuatnya pesan edukasi dan kedekatan tema dengan penonton muda (Gen Z), tim produksi optimis film ini akan mendapatkan sambutan hangat di pasar nasional. Target ambisius sebanyak 2 juta penonton dicanangkan untuk film ini.
Saat ini, Tasya dan Ardian S Perkasa secara terbuka membuka peluang bagi para investor dan sponsor untuk bergabung dalam proyek produksi ini. Film ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi para orang tua dan remaja tentang pentingnya keamanan emosional di dalam rumah.
Logline,”Di tengah keramaian rumah keluarga besarnya, seorang remaja perempuan harus mencari arti “”pulang”” yang sesungguhnya saat tempat tinggalnya kini terasa seperti penjara.”












