GD. ID, JAKARTA — Kekecewaan terhadap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memuncak. Komite Selamatkan Rakyat Jakarta (Kosraj) bersama Solidaritas Ojol Se-Nusantara (SOS) menyatakan siap menurunkan massa lebih besar dan mengepung Balai Kota jika tuntutan pekerja PJLP usia 56 tahun (U-56) terus diabaikan.
Ade Glanter, perwakilan Kosraj, menegaskan bahwa eskalasi aksi merupakan akumulasi kemarahan publik akibat janji pemerintah yang tak kunjung direalisasikan.
“Ketika pemerintahan tidak menyikapi tuntutan masyarakat, maka yang muncul adalah kekecewaan, kejenuhan, bahkan kemuakan. Ini bukan soal satu isu, tapi akumulasi masalah Jakarta yang terus dibiarkan,” tegas Ade. Saat di konfirmasi gentademokrasi. id, di Kawasan , Tanjung Priok, Jakarta Utara, (17/1/2026).
Menurutnya, Kosraj telah menempuh jalur birokrasi resmi dengan mengirimkan surat permohonan audiensi kepada Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta. Bahkan, permintaan pertemuan dijadwalkan pada hari Senin, namun hingga kini belum ada kepastian akan ditemui.
“Di bawah guyuran hujan kami sudah mengingatkan. Kalau Senin kami tidak ditemui Sekda, maka langkah lanjutan adalah penurunan massa yang lebih besar,” ujarnya.
Ade juga menyinggung Surat Edaran (SE) tertanggal 9 Desember yang seharusnya menjadi solusi bagi pekerja PJLP U-56. Namun faktanya, hingga hari ini para pekerja masih dirumahkan.
“Secara birokrasi, kelurahan, kecamatan, sampai dinas sudah mengajukan. Sekarang bola ada di Sekda. Kalau SE sudah dibuat, kenapa tidak dijalankan? Ini menunjukkan birokrasi yang lelet dan tidak becus,” kritiknya.
Ia bahkan mempertanyakan kelayakan Sekda DKI Jakarta.
“Kalau memang tidak mampu menjalankan fungsi birokrasi, ya seharusnya mundur saja,” tegas Ade.
Tuntutan massa jelas: pekerja PJLP usia 56 tahun harus kembali bekerja, selama masih sehat, bersemangat, dan tidak memiliki surat peringatan.
“Mereka berhak bekerja. Bekerjakan mereka. Kalau ini terus diabaikan, kami siap kepung Balai Kota,” tandasnya.
SOS: Janji Kampanye Gubernur Jangan Jadi Omong Kosong
Hal senada disampaikan Agung dari Solidaritas Ojol Se-Nusantara (SOS). Ia menegaskan bahwa kehadiran pihaknya adalah untuk menagih janji Gubernur DKI Jakarta yang disampaikan saat kampanye dan rapat terbatas (ratas).
“Sampai hari ini, tidak ada satu pun yang terealisasi. Kami sudah aksi tanggal 14, tapi nihil hasil. Senin kami datang lagi. Temui kami,” ujar Agung.
Agung memperingatkan, jika tuntutan kembali diabaikan, maka aksi akan diperluas dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Bukan hanya PJLP, tapi juga ojol, bajaj, UMKM—semua yang selama ini dighostingkan. Seribu massa akan datang geruduk Balai Kota,” katanya.
Bahkan, ia memastikan aksi lanjutan akan terus berlanjut.
“Kalau Senin tidak ada respons, Selasa kami balik lagi. Ini soal pertanggungjawaban janji-janji kampanye Gubernur DKI Jakarta,” pungkasnya (ANW)












