Banjir Tak Pernah Pergi, Janji Pemerintah yang Selalu Datang: Warga RW 04 Semper Barat Kembali Mengungsi

GD. ID, JAKARTA— Banjir kembali merendam wilayah RW 04, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Hingga Selasa pagi, tercatat 194 jiwa dari 75 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi akibat genangan air yang tak kunjung surut.

Para pengungsi tersebar di dua lokasi, yakni Rusun Embrio RW 04 sebanyak 181 jiwa dan Musala Al-Barokah RT 01 sebanyak 13 jiwa.

Ketua RW 04 Semper Barat, Djumadi, yang akrab disapa Uje, menjelaskan bahwa bantuan pemerintah sejauh ini masih sangat terbatas.

Bantuan sebenarnya sudah ada, karena ini banjirnya bukan sekali dua kali. Tapi yang kami terima saat ini baru sebatas nasi kotak dari Dinas Sosial dan Kelurahan,” ujar Uje. Saat di konfirmasi, gentademokrasi. id, di Rusun Embrio, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, (30/1/2026).

Menurutnya, kebutuhan mendesak warga pengungsi saat ini adalah air bersih dan air mineral. Selain itu, ia menekankan pentingnya perhatian terhadap akses jalan menuju lokasi pengungsian.

“Akses ke permukiman dan pengungsian ini rendah. Jadi setiap kali evakuasi atau distribusi bantuan, selalu terhambat. Harusnya ada peninggian jalan supaya akses tetap aman meski lingkungan sekitar banjir,” jelasnya.

Banjir Rutin, Solusi Tak Pernah Tuntas
RW 04 dikenal sebagai salah satu wilayah yang langganan banjir. Uje mengungkapkan bahwa berbagai usulan penanggulangan banjir telah berulang kali disampaikan melalui forum Musrenbang, namun hingga kini belum ada realisasi konkret.

“Dari dulu wacananya selalu ada. Saya sudah beberapa kali bawa anggota dewan, pejabat pemkot, bahkan dari Sudin SDA ke lokasi. Tapi ujung-ujungnya cuma janji,” tegasnya.

Ia menyebutkan, persoalan utama banjir di RW 04 meliputi:
Drainase yang buruk
Belum adanya penurapan di anak Kali Gubuk Genteng dan Kali Progo
Pengaturan pintu air yang tidak optimal
Gorong-gorong kecil di Jalan Cacing, Cilincing
Menurut Uje, gorong-gorong tersebut merupakan titik paling krusial.

“Gorong-gorong itu kecil dan harus diperlebar serta ditinggikan. Air dari Kelapa Gading numpuk di situ sebelum masuk ke Kali Gubuk Genteng, Kali Progo, lalu ke Kali Sepatan Semper Timur. Kalau gorong-gorongnya besar, aliran air pasti lebih lancar,” jelasnya.

Namun, hingga kini, pembangunan tersebut terus terkendala persoalan kewenangan.

“Katanya gorong-gorong itu aset provinsi. Pemkot bilang itu kewenangan DKI. Akhirnya saling lempar, dan warga yang jadi korban,” ungkapnya.

Waduk Mangkrak, Warga Kian Pesimis
Selain gorong-gorong, Uje juga menyoroti pembangunan waduk di wilayah RW 04 yang hingga kini belum selesai.

“Kalau waduk itu dikeruk lebih dalam, pintu airnya berfungsi normal, itu sangat membantu. Tapi sekarang pembangunannya mangkrak, tidak ada kelanjutan,” katanya.

Banjir terparah, lanjut Uje, rutin terjadi di RT 16, RT 08, dan RT 13, kemudian merembet ke RT 05, RT 09, RT 01, hingga wilayah rusun.

“Artinya jelas, pembangunan di RW 04 ini masih sebatas wacana. Sementara banjir terus berulang dan warga terus mengungsi,” pungkas Uje. (ANW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *