GD.ID, Semarang — Dinamika penyampaian aspirasi mahasiswa harus tetap menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat. Karena itu, Theo Christian Ra’ag, Menteri Koordinator Relasi Jaringan BEM UNNES, menyerukan agar seluruh mahasiswa menjaga kondusivitas dan mengedepankan penyampaian aspirasi secara damai, tertib, kritis, dan bertanggung jawab.
Theo menilai mahasiswa memiliki posisi penting sebagai kelompok intelektual yang harus mampu menyampaikan kritik berdasarkan data dan argumentasi, bukan berdasarkan informasi yang belum teruji.
“Mahasiswa harus kritis terhadap kebijakan, tetapi juga harus kritis terhadap informasi. Jangan sampai kita lantang menyuarakan aspirasi, tetapi justru mudah diprovokasi oleh hoaks.”
Menurut Theo, derasnya informasi di media sosial membuat mahasiswa perlu lebih berhati-hati. Informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya tidak boleh dijadikan dasar untuk membangun kemarahan ataupun menggerakkan massa.
“Satu informasi palsu bisa memicu keresahan dan menggeser substansi perjuangan. Karena itu, verifikasi adalah bagian dari perjuangan. Jangan percaya sebelum memeriksa, dan jangan menyebarkan sebelum memastikan.”
Ia juga menegaskan bahwa gerakan mahasiswa harus tetap independen dan tidak boleh menjadi kendaraan bagi kepentingan pihak tertentu.
“Kami menolak siapa pun yang mencoba menunggangi gerakan mahasiswa untuk kepentingannya sendiri. Mahasiswa bukan alat politik, bukan kendaraan kelompok, dan bukan massa yang bisa diarahkan sesuka hati.”
Menurutnya, independensi bukan berarti mahasiswa menutup diri terhadap komunikasi dengan berbagai pihak, tetapi memastikan bahwa keputusan dan sikap gerakan tetap ditentukan berdasarkan kajian serta kepentingan publik.
Theo juga menyerukan agar penyampaian aspirasi dilakukan secara damai dan tidak mengorbankan masyarakat yang tidak terlibat.
“Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh mengkritik dengan keras. Tetapi jangan gunakan kekerasan. Jangan merusak fasilitas. Jangan mengganggu masyarakat. Sampaikan tuntutan dengan kepala dingin dan argumentasi yang kuat.”
Ia menambahkan bahwa kekuatan gerakan mahasiswa tidak ditentukan oleh kericuhan yang ditimbulkan, tetapi oleh kualitas gagasan dan konsistensi perjuangannya.
“Gerakan yang bermartabat adalah gerakan yang mampu menjaga ketegasan tanpa kehilangan kedamaian. Kita ingin suara mahasiswa didengar karena gagasannya, bukan karena keributannya.”
Theo mengajak seluruh mahasiswa untuk bersama-sama menjaga ruang demokrasi agar tetap terbuka, sehat, dan bertanggung jawab.
“Tetap kritis, tetapi jangan mudah diprovokasi. Tetap bergerak, tetapi jangan mau ditunggangi. Tetap bersuara, tetapi pastikan suara kita berdiri di atas fakta.”
Kritik boleh keras. Aspirasi boleh tegas. Tetapi demokrasi harus tetap kondusif.
