Site icon GENTADEMOKRASI

Bupati Tasikmalaya Resmikan Institut Alam Rimba Puncak Suji, Tonggak Baru Pendidikan Berbasis Alam dan Kemandirian Desa

GD.ID, Tasikmalaya  – Di tengah meningkatnya persoalan kerusakan lingkungan, berkurangnya ruang belajar berbasis pengalaman, serta menguatnya tuntutan pembangunan desa yang berkelanjutan, sebuah inisiatif pendidikan berbasis alam resmi lahir di Kabupaten Tasikmalaya. Institut Alam Rimba Puncak Suji diluncurkan melalui rangkaian Festival Edukasi Alam Desa di Kampung Puncak Suji RT 017/RW 004, Desa Pusparaja, Kecamatan Cigalontang, Rabu (1/7/2026).

Peluncuran ini tidak sekadar menandai berdirinya sebuah lembaga pendidikan. Lebih dari itu, Institut Alam Rimba Puncak Suji membawa gagasan bahwa pendidikan harus kembali menyatu dengan alam sebagai ruang belajar, membangun karakter, sekaligus menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat desa.

Konsep tersebut menggabungkan pendidikan karakter, konservasi lingkungan, riset terapan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran. Model ini diharapkan mampu menjawab tantangan pembangunan yang selama ini kerap memisahkan antara aspek pendidikan, pelestarian lingkungan, dan penguatan kapasitas masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doabersama yang di pimpin oleh almukarom Ustasd Ajad Sudrajad. Selanjutnya, peserta mengikuti Festival Edukasi Alam Desa, pameran produk unggulan desa, media gathering, aksi peduli lingkungan, serta forum kolaborasi yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, komunitas, organisasi masyarakat, pelajar, dan pegiat lingkungan.

Kehadiran Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung lahirnya inovasi pendidikan berbasis lingkungan. Dukungan tersebut tidak hanya menjadi simbol hadirnya pemerintah di tengah masyarakat, tetapi juga menunjukkan bahwa pembangunan daerah harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelestarian lingkungan, dan penguatan kemandirian desa. Sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Sorotan utama kegiatan tertuju pada Sarasehan Pendidikan Alam bertajuk “Ngobrol Bareng Wakil Rakyat” dengan tema “Membangun Generasi Berkarakter melalui Pembelajaran Berbasis Alam.”

Forum tersebut menghadirkan Drs. KH. Tetep Abdulatif, M.Ag., Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Jawa Barat, Abah Irdas selaku Dewan Pembina Institut Alam Rimba, serta Deden Ramdhan Nugraha, S.T., M.M., Kepala Dinas DPUPRLH Kabupaten Tasikmalaya. Ketiga narasumber membahas berbagai perspektif mengenai pentingnya pendidikan berbasis alam, penguatan karakter generasi muda, pelestarian lingkungan, serta sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Jalannya diskusi dipandu oleh Randika, Pemimpin Redaksi Media Kabar Sembilan, yang bertindak sebagai moderator. Dengan gaya moderasi yang komunikatif, lugas, dan interaktif, ia mengarahkan jalannya dialog agar tetap fokus pada isu-isu strategis seputar pendidikan berbasis alam, pelestarian lingkungan, serta arah kebijakan pembangunan berkelanjutan. Moderator juga berhasil membangun suasana diskusi yang hidup melalui pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan mampu menggali pandangan dari setiap narasumber secara berimbang.

Suasana forum berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Para narasumber menyampaikan pemaparan, gagasan, serta pandangan mengenai pentingnya membangun generasi yang berkarakter, memiliki kesadaran ekologis, dan mampu berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Diskusi juga menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan berbasis lingkungan yang berkelanjutan di Kabupaten Tasikmalaya.

Dalam diskusi mengemuka satu benang merah: pembangunan tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan hidup. Pendidikan berbasis alam dipandang sebagai salah satu strategi untuk membentuk generasi yang memiliki kepedulian ekologis, karakter kuat, serta kemampuan menghadapi tantangan perubahan zaman.

Direktur Institut Alam Rimba Puncak Suji, Resta Syada, S.Pd., menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya dibangun bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan ilmu pengetahuan, pelestarian alam, dan pemberdayaan masyarakat.

“Institut Alam Rimba Puncak Suji hadir sebagai ruang belajar yang mengajak masyarakat kembali mencintai alam, membangun karakter generasi muda, sekaligus mendorong kemandirian desa melalui pendidikan berbasis lingkungan,” ujarnya.

Menurut Resta, pembelajaran tidak cukup berhenti pada penguasaan teori. Pendidikan harus melahirkan pengalaman nyata yang mampu membentuk kepedulian, tanggung jawab sosial, dan kesadaran terhadap pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi nyata di bidang lingkungan hidup, panitia menyerahkan apresiasi kepada sejumlah tokoh dan komunitas, yakni Agus Sudarsono, S.T. sebagai peneliti teknik material sekaligus pengembang inovasi Eco-Paving Block, Jelby Zahir sebagai Duta Lingkungan, Bank Sampah Batik Resik Desa Salopa, serta Bank Sampah Salimah Desa Kamulyan atas dedikasi mereka dalam pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan juga didukung berbagai lembaga, di antaranya Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI), Bank Galunggung, BPR Artha Sukapura, Bank Indonesia, bank bjb, Program Adiwiyata, dan sejumlah mitra lainnya yang memiliki perhatian terhadap penguatan pendidikan serta pelestarian lingkungan.

Mengusung slogan “Kembali ke Alam, Membangun Masa Depan Desa,” Institut Alam Rimba Puncak Suji menempatkan dirinya sebagai ruang kolaborasi lintas sektor untuk membangun kesadaran ekologis, memperkuat pendidikan karakter, dan mendorong lahirnya inovasi desa berbasis potensi lokal.

Di tengah meningkatnya ancaman degradasi lingkungan dan tantangan pembangunan yang semakin kompleks, lahirnya lembaga seperti Institut Alam Rimba Puncak Suji menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bagi masa depan bukan hanya pembangunan fisik, melainkan juga pembangunan manusia. Sebab, keberlanjutan lingkungan pada akhirnya akan ditentukan oleh kualitas karakter, pengetahuan, dan kepedulian generasi yang dibentuk hari ini.

Exit mobile version