GD.ID, Jakarta-Kelurahan Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, mengembangkan pemanfaatan lubang biopori untuk mengatasi persoalan sampah.
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Tugu Selatan, Yanti, mengatakan, lubang biopori tersebut berada di halaman depan kantor Kelurahan.
“Lubang biopori yang disiapkan jajarannya ini tidak hanya berfungsi sebagai resapan air, namun juga bisa menampung sampah organik,”ujar Yanti, Jumat (17/07/2026)
Masih di jelaskan olehnya, berdasarkan Ingub nomor 5 tahun 2026, kita harus melakukan pemilahan sampah dari sumber. Kami gencar sosialisasikan ke warga pemilihan sampah, semua RW telah melakukan pemilahan sampah.
“Lubang biopori itu dibuat menggunakan toren ukuran besar yang ditanam di area tanah dengan lahan terbatas. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori itu tidak akan menimbulkan bau lantaran dibubuhi formula EM4 dan gula,”katanya.
Selain itu, dikelurahan Tugu Selatan saat ini sudah ada rumah manggot dan komposting.
Pembudidayaan maggot di lokasi tersebut dapat mengurai sampah organik sebanyak 30 kilo setiap hari
“Ulat maggot ini kita manfaatkan sebagai media pengurai sampah organik seperti, sisa makanan agar menjadi produk bermanfaat dan bernilai ekonomi. sampah-sampah tersebut diolah secara alami menggunakan ulat manggot larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Kedepan manggot dan lubang biopori juga akan dikembangkan di RW 06,”terangnya.
(amin)
