Kritik Pedas Soal Waduk Belibis: “Renovasi Bukan Solusi, Itu Kebodohan dan Kebloonan!”

GD. ID, JAKARTA– Kritik keras kembali dilontarkan H. Dali Madali, Pengamat Sosial dan Tokoh Masyarakat Semper Barat, terkait rencana perbaikan, renovasi, pendalaman hingga pelebaran Waduk Belibis.

Ia menilai langkah tersebut bukan solusi fundamental untuk mengatasi persoalan banjir yang selama ini menghantui warga.

Menurutnya, memperbesar kapasitas waduk tanpa membenahi sistem aliran air hanya menjadi kebijakan tambal sulam yang tidak menyentuh akar persoalan.

“Kalau menurut saya, perbaikan dan renovasi maupun pendalaman atau pelebaran daripada Waduk Belibis ini tidak akan menyelesaikan solusi. Ini kebodohan gubernur, kebloonan gubernur, bloon,” tegas Dali. Saat dikonfirmasi genta demokrasi.id, di kawasan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara (23/2/2026)

Ia menyebut persoalan utama bukan semata pada daya tampung waduk, melainkan pada sistem pembuangan air yang terpusat di satu titik. Air buangan dari Kelapa Gading dan kawasan industri KBN, kata dia, seharusnya tidak seluruhnya diarahkan ke Waduk Belibis.

Menurut Dali, solusi yang lebih tepat adalah membangun sodetan-sodetan atau saluran pemecah arus air agar beban tidak menumpuk di satu sumber.

“Yang cantik itu bikin sodetan-sodetan yang sifatnya memecah dan membagi buangan dari Kelapa Gading, dari KBN. Jangan dimasukin ke Waduk Belibis. Kalau tiga unsur itu dimasukin ke sumber yang sama, enggak selesai,” ujarnya.
Ia pun secara terbuka mengkritik kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menurutnya keliru arah dalam menangani persoalan banjir di wilayah utara Jakarta.
“Ini adalah kebodohan daripada Gubernur DKI Jakarta, Bapak Insinyur Pramono Anung,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut memantik perhatian publik, terutama warga Semper Barat dan sekitarnya yang selama ini terdampak genangan saat curah hujan tinggi maupun saat debit kiriman meningkat.

Warga kini berharap pemerintah tidak hanya fokus pada proyek fisik berskala besar, tetapi juga membangun sistem drainase terpadu dan terintegrasi agar persoalan banjir benar-benar tuntas, bukan sekadar dipindahkan dari satu titik ke titik lainnya. (ANW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *