Masjid Al-Muna Tegaskan Pesan Isra Mi’raj: Bangun Akhlak, Rawat Rumah Allah

Tasikmalaya, gentademokrasi.id — Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al-Muna, Kampung Bongas, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Sabtu (24/01/2026), menegaskan bahwa Isra Mi’raj bukan agenda seremonial tahunan semata. Kegiatan ini menjelma menjadi ruang refleksi kolektif sekaligus seruan terbuka untuk memperkuat karakter umat dan mempercepat renovasi masjid sebagai pusat pembinaan moral masyarakat.

Mengusung tema “Membangun Generasi yang Taat Shalat dan Berakhlakul Karimah”, acara tersebut dihadiri Ketua MUI Kecamatan Sukarame, aparatur desa, Bhabinkamtibmas, para tokoh masyarakat, serta ratusan warga RW 003 dan sekitarnya. Antusiasme jamaah mencerminkan kesadaran bersama bahwa krisis akhlak dan keterbatasan fasilitas rumah ibadah merupakan persoalan nyata yang menuntut aksi kolektif, bukan sekadar wacana.

Sejak awal kegiatan, suasana khidmat terasa kuat. Lantunan Ummul Qur’an dan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema di dalam dan halaman masjid, membuka rangkaian acara yang sarat makna. Dalam sambutannya, perwakilan keluarga pengurus Masjid Al-Muna menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj harus dimaknai sebagai momentum evaluasi spiritual bersama, bukan rutinitas simbolik yang berakhir tanpa perubahan nyata.

Pesan tersebut diperkuat Ketua MUI Kecamatan Sukarame yang mengingatkan kembali peran strategis masjid sebagai pusat pembinaan akhlak dan penjaga moral masyarakat. Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, masjid dituntut kembali pada fungsi utamanya sebagai ruang pendidikan karakter, bukan hanya tempat ibadah ritual.

Puncak acara diisi tausiyah oleh Kyai Agni Nurobi’i Syafi’i dari Padasuka. Dalam ceramahnya, Kyai Agni menegaskan bahwa shalat merupakan fondasi utama pembentukan karakter individu dan masyarakat. Ia menilai, berbagai persoalan sosial yang mencuat hari ini berakar dari melemahnya kesadaran beribadah, khususnya shalat.

“Shalat adalah benteng akhlak. Ketika shalat ditegakkan, nilai moral ikut berdiri. Namun ketika shalat ditinggalkan, kerusakan sosial hanya tinggal menunggu waktu,” tegasnya di hadapan jamaah.

Menurut Kyai Agni, Isra Mi’raj adalah pengingat ideologis bagi umat Islam. Peristiwa tersebut bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW, melainkan tonggak diturunkannya perintah shalat sebagai pilar utama kehidupan umat.

Di tengah tausiyahnya, Kyai Agni juga mengajak jamaah menunjukkan kepedulian nyata melalui amal jariyah untuk renovasi Masjid Al-Muna yang hingga kini masih dalam tahap penggalangan dana. Ajakan ini menjadi penegasan bahwa pembangunan spiritual umat tidak boleh terlepas dari pembangunan fisik rumah ibadah.

Ajakan tersebut ditindaklanjuti dengan prosesi pengumpulan dana yang berlangsung khidmat. Atas gagasan Harun Alby, yang disampaikan melalui Ketua RW 003, Kyai Agni memandu jamaah bersalawat bersama. Lantunan salawat menggema, mengiringi petugas pembawa kotak amal yang berkeliling di antara jamaah, menciptakan suasana haru dan kekhusyukan.

“Sedekah untuk rumah Allah adalah bukti keimanan yang paling nyata. Semoga melalui momentum Isra Mi’raj ini, pembangunan fisik masjid berjalan seiring dengan penguatan spiritual jamaahnya,” ujar Kyai Agni.

Sementara itu, Harun Alby menegaskan bahwa krisis akhlak tidak dapat dihadapi tanpa lingkungan yang mendukung. Menurutnya, masjid yang layak dan representatif merupakan prasyarat penting agar fungsi pembinaan umat dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

“Renovasi masjid bukan sekadar memperindah bangunan, tetapi memastikan pusat pembinaan umat tetap hidup, aktif, dan berfungsi maksimal,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Kyai Dudung Abdul Latif, generasi penerus tokoh Pondok Pesantren Sumur Picung yang berlokasi tak jauh dari Masjid Al-Muna. Kehadirannya menegaskan kuatnya sinergi masjid dan pesantren sebagai dua pilar utama penjaga nilai-nilai keislaman di Kampung Bongas.

Melalui doa yang dipanjatkan, jamaah berharap nilai-nilai Isra Mi’raj mampu bertransformasi menjadi perubahan nyata dalam perilaku sosial masyarakat, sekaligus mempercepat terwujudnya renovasi Masjid Al-Muna sebagai poros pembinaan umat, pusat penguatan karakter, dan benteng moral masyarakat.

Di tengah tantangan zaman dan krisis akhlak yang kian terasa, peringatan Isra Mi’raj di Masjid Al-Muna menegaskan satu hal: kebangkitan umat tidak cukup dibangun lewat simbol dan seremonial, melainkan melalui keteguhan shalat, kekuatan akhlak, dan kepedulian nyata terhadap rumah ibadah.

Biro Tasikmalaya

Exit mobile version