Tasikmalaya, gentademokrasi.id – Dalam dunia pengelolaan limbah dan industri pakan ternak, Black Soldier Fly (BSF) atau Lalat Tentara Hitam (Hermetia illucens) semakin menjadi sorotan. Yang dimanfaatkan bukan serangganya, melainkan larvanya maggot yang dikenal sebagai penghancur sampah organik tercepat yang pernah ada di alam. Larva BSF mampu menghabiskan sisa dapur, buah busuk, hingga bangkai ikan dalam waktu singkat. Dengan kandungan protein mencapai 35–45%, maggot kini menjadi bahan baku strategis bagi sektor perikanan, unggas, reptil, dan bahkan industri pakan modern.
Budidaya maggot terbukti mampu mengurangi sampah organik hingga 60–90%, sekaligus menghasilkan tiga produk bernilai ekonomi, Maggot segar atau kering (bahan pakan), Kasgot, pupuk organik berkualitas tinggi dan Minyak larva, bahan baku biodiesel dan formula pakan modern.
Budidaya Black Soldier Fly (BSF) terus menjadi sorotan karena terbukti mampu mengolah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Proses budidayanya sederhana namun membutuhkan manajemen yang tepat agar hasilnya maksimal.
Tahap pertama dimulai dengan menarik indukan BSF menggunakan umpan fermentasi berbahan buah busuk, air kelapa basi, dedak, dan gula merah. Dalam kondisi ideal, lalat dewasa akan bertelur dalam waktu tiga hingga lima hari.
Setelah telur terkumpul, tahap kedua adalah penetasan. Telur dipindahkan ke hatchery box lalu diberi pakan starter seperti dedak, bubur roti, atau ampas tahu. Tahapan ini menjadi penentu awal keberhasilan karena lingkungan yang terlalu basah dapat mengganggu perkembangan larva.
Masuk tahap ketiga, larva atau maggot mulai dibesarkan menggunakan berbagai limbah organik: sayuran busuk, nasi basi, buah rusak, dan limbah dapur rumah tangga hingga restoran. Namun pakar mengingatkan, pada fase awal budidaya harus menghindari daging segar, ikan berbau tajam, maupun kotoran hewan, karena dapat memicu datangnya lalat rumah dan mengganggu koloni BSF.
Dengan manajemen pakan yang tepat, tingkat produktivitasnya mencengangkan: 1 kilogram telur dapat menghasilkan 300 hingga 600 kilogram maggot.
Tahap panen dibagi menjadi dua kategori. Maggot muda berusia lima hingga sepuluh hari biasanya digunakan sebagai pakan ternak, khususnya ikan dan unggas. Sementara prepupa usia 10–14 hari dipanen sebagai bibit indukan. Panen dapat dilakukan secara manual maupun melalui sistem ramp otomatis yang memanfaatkan insting alami larva mencari tempat pupasi.
Secara ekonomi, skala produksinya fleksibel. Model rumahan mampu menghasilkan 0,5–5 kilogram per hari, cocok untuk pemula. Skala UMKM dapat memproduksi 5–50 kilogram, sementara sistem industri mampu memproses 50–500 kilogram per hari, tergantung fasilitas dan sistem budidaya.
Produk akhir budidaya BSF beragam, mulai dari maggot segar dan maggot kering bernilai tinggi, kasgot sebagai pupuk organik premium, hingga minyak larva yang mulai dilirik sebagai bahan baku biodiesel dan industri pakan modern.
Para praktisi menilai, budidaya BSF bukan sekadar kegiatan beternak serangga, tetapi solusi konkret menghadapi persoalan lingkungan, pakan ternak, dan ekonomi lokal.
Secara global, BSF kini diakui sebagai teknologi biologis masa depan: bersih, efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan.
Dengan potensi tersebut, BSF bukan hanya tren, tetapi pintu masuk menuju model ekonomi baru berbasis biokonversi dan zero waste.
Menurut Erlan Herlan, Direktur Bank sampah Induk BERSEKA Kabupaten tasikmalaya, Perbedaan Nyata dengan Lalat Biasa.
BSF bukan jenis lalat pengganggu. Dibandingkan lalat rumah, maggot BSF jauh lebih higienis, tidak berbau, dan memiliki manfaat berlipat. Tegas Erlan.
Banyak orang masih mengira budidaya maggot akan menghasilkan bau busuk dan memicu lalat rumah. Faktanya, justru sebaliknya. BSF adalah spesies berbeda dengan karakter, fungsi, dan dampak lingkungan yang jauh lebih positif.
Berikut perbandingan jelasnya:
ASPEK LALAT RUMAH MAGGOT BSF (BLACK SOLDIER FLY) Bau Tinggi, menyengat, mengganggu Hampir tidak ada—lebih stabil dan terkontrol Risiko Penyakit Sangat tinggi (membawa bakteri & patogen) Sangat rendah—BSF tidak hinggap di kotoran atau makanan manusia Kebiasaan Bertelur Acak, liar, tidak dapat dikendalikan Terkontrol—bertelur di media tertentu seperti egg trap Manfaat Minim, hampir tidak ada nilai ekonomi Tinggi: menghasilkan kompos, pakan bernilai tinggi, hingga minyak larva (feed & biodiesel)
“Penting bagi masyarakat memahami perbedaan ini secara tepat. Banyak yang masih menyamakan budidaya Black Soldier Fly (BSF) dengan aktivitas pembuangan sampah yang menimbulkan bau dan lalat penyakit. Padahal, BSF justru menawarkan solusi ekologis dengan potensi mengurangi sampah organik hingga 90%, memperkuat peternakan lewat pakan tinggi protein, sekaligus menghasilkan pupuk organik dan energi alternatif. Sistem ini menjadi fondasi ekonomi sirkular berbasis ekobioteknologi.” ucap Arif, Ketua Bank Sampah Unit Desa Sukasukur Cisayong, salah satu praktisi budidaya BSF.
“Selama manajemen lingkungan dan pakan dijaga, maggot BSF bukan menambah masalah, tapi menyelesaikannya. Sampah jadi bernilai, lingkungan lebih bersih, dan peternak mendapatkan sumber pakan hemat biaya.” Tutur Arif
Arif juga menambahkan, BSF bukan sekadar serangga biasa. Ia adalah alat pengolah sampah alami, sumber nutrisi premium, dan pondasi baru ekosistem pertanian modern.Sementara lalat rumah menjadi bagian dari masalah, BSF hadir sebagai bagian dari solusi. Tutupnya.
(Tim)










