GD. ID, JAKARTA— Peringatan Hari Ulang Tahun ke-12 Kampoeng Tanah Merah Harapan bukan sekadar seremoni tahunan.
Momentum ini menjadi ruang refleksi kolektif warga untuk meneguhkan kembali komitmen kebersamaan dalam perjuangan panjang mempertahankan hak hidup, martabat, dan masa depan kampoeng di tengah kerasnya dinamika kota.
Ketua Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB), M. Huda, menegaskan bahwa apa yang dinikmati warga hari ini merupakan buah dari kegigihan para pejuang kampoeng yang telah lebih dulu berjuang, bahkan sebagian telah mendahului.
“Apa yang kita peroleh hari ini tidak datang begitu saja. Tanpa kegigihan orang-orang yang mempertahankan kampoeng, kita bukan siapa-siapa,” ujar M. Huda. Melalui pesan tertulisnya (15/1/2026).
Ia mengakui bahwa dahulu hingga kini, sebagian pihak masih memandang rendah keberadaan warga kampoeng kota seperti Tanah Merah. Namun, justru dari keterbatasan itulah warga Tanah Merah membuktikan diri mampu berdiri tegak, mandiri, dan berdaulat atas masa depannya sendiri.
“Kita berjalan bukan sekadar melangkah, tapi dengan strategi dan taktik untuk mendapatkan keadilan dan kesetaraan sebagai warga negara Indonesia,” tegasnya.
Perjuangan Kolektif yang Berbuah Nyata
M. Huda memaparkan bahwa semangat persatuan dan kebersamaan telah melahirkan hasil nyata. Sejumlah capaian penting telah dirasakan warga, mulai dari jaminan kesehatan melalui Jamkesmas (2008–2012), peresmian RT dan RW (2010–2013), hingga program Penataan Kampoeng (2017–2022) yang meliputi pembangunan jalan, jembatan, penyaluran air bersih (PAM), penerbitan IUMK, serta IMB kawasan bagi rumah-rumah warga.
“Kampoeng kita sudah berada di pintu gerbang kemerdekaan. Tapi perjuangan belum selesai. Legalitas kampoeng Tanah Merah harus terus diperjuangkan agar diakui secara hukum,” katanya.
Perjuangan Politik, Bukan Sekadar Simpati
Dalam refleksinya, M. Huda menegaskan bahwa perjuangan warga Tanah Merah adalah perjuangan politik, bukan semata perjuangan hukum. Politik dimaknai sebagai alat memperjuangkan nasib dan masa depan kampoeng, bukan sekadar urusan dukung-mendukung berdasarkan suka atau tidak suka.
“Suara warga Tanah Merah hanya akan kita titipkan kepada mereka yang benar-benar berkomitmen berjuang bersama rakyat—baik calon DPRD, DPR RI, gubernur, hingga presiden,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar warga tidak lagi memberikan dukungan kepada pihak-pihak yang hanya datang saat pemilu, mengambil suara, lalu menghilang ketika warga berjuang sendirian—bahkan menjadi penghambat perjuangan.
Sebaliknya, apabila ada putra-putra Tanah Merah yang maju sebagai perwakilan kampoeng, M. Huda menegaskan bahwa mereka wajib didukung dan dimenangkan.
Menjaga Sejarah, Merawat Masa Depan
Peringatan HUT ke-12 ini juga dimanfaatkan untuk mengenang jasa para pejuang kampoeng, menggali potensi budaya dan pemuda sebagai generasi penerus, serta menumbuhkan kembali nasionalisme dan kecintaan terhadap kampoeng.
“Ini bukan acara seremonial. Ini cara kita menyatukan langkah untuk menggapai cita-cita yang belum tercapai,” ujar M. Huda.
Menutup refleksinya, ia menegaskan keyakinan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.
“JAS MERAH — Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Hidup bersama, belajar bersama, berjuang bersama,” pungkasnya. (ANW)












