GD. ID, JAKARTA— Kerja bakti massal pascabanjir di RW 04 Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, kembali membuka fakta lama yang belum juga dituntaskan: banjir bukan sekadar persoalan sampah, melainkan kegagalan tata kelola drainase dan abainya pihak industri besar, khususnya Kawasan Berikat Nusantara (KBN).
Ketua RW 04 Semper Barat, Djumadi alias Uje, mengapresiasi langkah Lurah Semper Barat yang menjadikan wilayah RT 11 dan RT 16—dua titik terdampak banjir terparah—sebagai lokasi kerja bakti massal.
“Warga menyambut sangat antusias. Semua unsur turun, mulai dari PPSU, PJLP, Pemadam Kebakaran, hingga PMI Jakarta Utara. Ini kerja kolektif yang patut diapresiasi,” ujar Uje, Minggu di kawasan RW 04, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, (8/2/2025).
Namun, menurutnya, kerja bakti hanya bersifat penanganan sementara, bukan solusi akar masalah.
Cegah Penyakit, Tapi Banjir Tetap Mengintai
Target kerja bakti difokuskan pada pembersihan saluran air pascabanjir guna mencegah munculnya sarang nyamuk dan penyakit seperti malaria.
“Kalau pascabanjir tidak cepat ditangani, penyakit pasti muncul. Idealnya disertai cairan disinfektan seperti weepol dan kapur tabur. Pernah ada, tapi jumlahnya jauh dari cukup,” jelasnya.
Meski membantu, Uje menegaskan kerja bakti tidak akan menghentikan banjir rutin yang terus menghantui RW 04 setiap musim hujan.
Gorong-gorong Kecil, Waduk Mangkrak
Akar masalah utama, kata Uje, terletak pada gorong-gorong di Jalan Cacing, Cilincing, yang hingga kini belum diperbesar dan ditinggikan.
“Selama gorong-gorong itu belum dibenahi, RW 04 akan banjir terus. Ditambah lagi turap Kali Gubuk Genteng, Kali Progo, dan Kali Sepatan yang belum dinormalisasi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti Waduk Belibis yang dinilai belum berfungsi optimal.
“Kalau hujan kecil, masih membantu. Tapi hujan lebat plus air kiriman, waduk tidak sanggup menampung. Bahkan airnya meluap balik ke pemukiman warga. Fondasinya belum dituntaskan, proyeknya terkesan mangkrak,” ungkap Uje.
KBN Dinilai Jadi Biang Kerok Banjir
Sorotan paling tajam diarahkan kepada Kawasan Berikat Nusantara (KBN).
Uje menyebut air tampungan dari kawasan industri seluas puluhan hektare itu dibuang ke saluran yang sama dengan Kali Gubuk Genteng, memperparah banjir di pemukiman warga.
“Air dari KBN itu jumlahnya besar, puluhan hektare. Dialirkan ke waduk, lalu ke kali yang sama dengan Kali Gubuk Genteng. Debitnya jelas menambah beban, sementara gorong-gorongnya kecil,” paparnya.
Ironisnya, saat hujan reda, air justru semakin naik.
“Warga heran, hujan sudah berhenti tapi air makin tinggi. Itu karena buangan dari KBN masih terus mengalir,” katanya.
Kepedulian KBN Dinilai Nihil
Uje menyayangkan sikap KBN yang dinilainya abai terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.
“Kepedulian KBN nol. Tidak ada kontribusi, tidak ada solusi. Tapi banjirnya kami yang tanggung. Aliran air dari KBN ini jelas memperburuk kondisi banjir di Semper Barat, khususnya RW 04,” tegasnya.
Desakan ke Pemkot Jakarta Utara
Uje mendesak Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara untuk tidak lagi menunda penanganan menyeluruh.
“Drainase harus dibenahi dari hulu ke hilir. Gorong-gorong diperbesar, ditinggikan, turap diperkuat, dan yang paling penting: KBN harus dipaksa bertanggung jawab atas dampak lingkungannya,” pungkasnya.
Hingga kini, banjir masih menjadi ancaman tahunan bagi warga RW 04 Semper Barat—sebuah ironi di tengah kawasan industri besar yang terus beroperasi, namun meninggalkan beban lingkungan bagi masyarakat sekitar. (ANW)
