Gerakan Utara Bersatu Mengguncang Pelindo: Tabur Bunga untuk Ermanto Usman, Massa Desak Usut Dugaan Korupsi dan Ancam Aksi Lebih Besar

GD. ID, JAKARTA– Aksi massa yang tergabung dalam Gerakan Utara Bersatu mengguncang kawasan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Ratusan massa turun ke jalan menggelar aksi damai yang diwarnai orasi keras dan tabur bunga sebagai bentuk duka sekaligus protes atas meninggalnya aktivis buruh Ermanto Usman, yang dikenal vokal menyuarakan persoalan buruh di lingkungan pelabuhan.

Aksi tersebut juga menjadi momentum bagi massa untuk mendesak aparat penegak hukum agar mengusut secara transparan kematian Ermanto Usman. Mereka menilai, almarhum merupakan sosok yang aktif menyuarakan berbagai persoalan di lingkungan pelabuhan, termasuk dugaan penyimpangan yang terjadi di dalamnya.

Koordinator Lapangan aksi, Juharto, dalam orasinya menegaskan bahwa pihaknya juga meminta agar investigasi yang pernah dilakukan oleh Ermanto Usman terkait dugaan indikasi korupsi di Pelindo dapat diusut kembali secara serius oleh aparat penegak hukum.

Menurut Juharto, sebelum meninggal dunia, Ermanto Usman disebut tengah melakukan investigasi terhadap sejumlah persoalan internal yang terjadi di lingkungan pelabuhan.

“Karena itu kami meminta agar sisa investigasi yang pernah dilakukan oleh almarhum tidak berhenti begitu saja. Aparat harus berani membuka dan mengusut dugaan yang pernah disuarakan oleh Ermanto Usman,” tegasnya. (11/3/2026) di Kantor Pelindo, Koja, Jakarta Utara (11/3/2026).

Selain menyoroti kematian aktivis buruh tersebut, massa juga menyampaikan keluhan masyarakat terkait kemacetan kronis di wilayah Jakarta Utara yang diduga dipicu oleh aktivitas truk kontainer dari kawasan pelabuhan.

Menurut mereka, kemacetan yang terjadi hampir setiap hari telah mengganggu aktivitas warga dan bahkan sering menimbulkan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk kontainer.

Para peserta aksi juga menyoroti tingginya angka kecelakaan yang menelan korban jiwa dari masyarakat, yang dinilai sudah berlangsung lama namun belum mendapatkan solusi nyata.

Selain itu, massa juga menyinggung kerja sama pengelolaan Jakarta International Container Terminal yang melibatkan perusahaan asal Hong Kong, Hutchison Port Holdings.

Kerja sama tersebut sebelumnya sempat memicu polemik terkait perpanjangan kontrak serta isu kepentingan asing dalam pengelolaan pelabuhan strategis nasional.

Di akhir aksi, Gerakan Utara Bersatu memberikan peringatan keras bahwa mereka siap kembali turun ke jalan dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan yang disampaikan tidak mendapat respons serius dari pihak terkait.

“Kami tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap. Jika tuntutan ini diabaikan, kami akan kembali melakukan aksi dengan massa yang jauh lebih besar,” ujar Juharto di hadapan para peserta aksi.

Exit mobile version