GD.ID, Jakarta-Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menggelar Rapat Terbatas (Ratas) di Kantor Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (3/11), untuk mempercepat penyelesaian persoalan yang dihadapi masyarakat. Dalam rapat tersebut, Gubernur Pramono memutuskan kelanjutan pembangunan turap Kali Angke, normalisasi saluran, serta penanganan kemacetan melalui pelebaran Jalan Joglo Raya. Optimalisasi pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Meruya Selatan juga menjadi perhatian.
Kembangan menjadi kecamatan pertama yang dikunjungi Gubernur Pramono untuk menggelar Ratas langsung di wilayah. Melalui pendekatan ini, persoalan masyarakat dapat dibahas bersama camat, lurah, dan perangkat daerah terkait agar penanganannya lebih cepat dan tepat sasaran.
“Di Kecamatan Kembangan ini ada tiga isu utama, yang pertama berkaitan dengan banjir, yang kedua berkaitan dengan kemacetan, perluasan jalan, yang ketiga berkaitan dengan TPS3R di Meruya Selatan,” ujar Gubernur Pramono.
Dalam penanganan banjir, Pemprov DKI Jakarta memprioritaskan kawasan Bendungan Polor–Puri Mansion di Kembangan Selatan serta Permata Buana dan Kompleks BTN di Kembangan Utara.
Gubernur Pramono memastikan pembangunan turap (sheet pile) Kali Angke sepanjang sekitar 2.370 meter dilanjutkan, disertai normalisasi saluran untuk meningkatkan kapasitas aliran air.
“Yang pertama, hal yang berkaitan dengan banjir dan genangan, tadi sudah diputuskan hal yang berkaitan dengan pembangunan sheet pile tetap dilanjutkan, kemudian normalisasi saluran tetap dilakukan, dan kemudian juga pelebaran Jalan Raya Joglo,” katanya.
Pada Januari 2026, banjir berdampak pada 10 RT di RW 001 Kembangan Selatan, meliputi 433 keluarga atau 1.049 jiwa, dengan ketinggian genangan sekitar 80–100 sentimeter.
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah melaksanakan kegiatan Gerebek Lumpur sepanjang 10,2 kilometer pada Juli–Oktober 2026, dengan sekitar 700 meter kubik sedimentasi berhasil diangkat dari saluran mikro dan makro di Kecamatan Kembangan.
Sementara itu, pelebaran Jalan Joglo Raya menjadi langkah penanganan kemacetan pada salah satu akses utama penghubung Jakarta dan Tangerang. Kepadatan lalu lintas selama ini terjadi akibat penyempitan jalan, terutama di sekitar Jembatan Intercon dan simpang Jalan Mochtar Raya.
Gubernur Pramono menyampaikan, pekerjaan pelebaran jalan membutuhkan waktu dan diperkirakan berlanjut hingga 2028.
“Memang mungkin tidak selesai di tahun 2027 ini, untuk pelebaran dan sebagainya mungkin perlu waktu sampai dengan 2028,” ujarnya.
Selain persoalan banjir dan kemacetan, Ratas membahas peningkatan kapasitas TPS3R Meruya Selatan yang melayani empat kelurahan, yakni Meruya Selatan, Meruya Utara, Srengseng, dan Joglo.
TPS3R tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 7,29 ton per hari. Namun, pemanfaatannya baru mencapai sekitar 3 ton per hari atau 41 persen.
Untuk meningkatkan kinerja fasilitas, Pemprov DKI Jakarta membahas kebutuhan tambahan mesin pemilahan dan pengolahan sampah. Langkah ini perlu diikuti penguatan pemilahan sampah dari sumbernya serta pengaturan pengangkutan agar fasilitas dapat dimanfaatkan secara optimal.
Upaya yang telah berjalan antara lain pembentukan Duta Pilah Sampah di tingkat RW, pelibatan kader Dasawisma, penguatan bank sampah, serta pengembangan pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot.
(apek)












