GD.ID, Jakarta-Sebagai langkah utama untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan, Mementrian Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, meninjau langsung praktik pemilahan sampah rumah tangga di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, baru-baru ini.
Menteri Hanif menambahkan, pemilahan sampah bukan sekadar memisahkan organik dan anorganik, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi dan lingkungan. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau bahan bakar alternatif, sementara sampah anorganik yang terpilah lebih mudah dikumpulkan dan diproses kembali.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Hanif juga meninjau Bank Sampah Unit (BSU) Koepoe-Koepoe dan Bio Reaktor Kompos di Kelurahan Rorotan. Kedua fasilitas ini menjadi contoh nyata penerapan pemilahan dan pengolahan sampah organik di tingkat lokal. Bank Sampah Koepoe-Koepoe mengelola sampah rumah tangga secara sistematis dan melibatkan partisipasi warga, sementara Bio Reaktor Kompos memproses sampah organik menjadi kompos berkualitas yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan dan kegiatan pertanian kota.
Selain itu, di RW 06, Kelurahan Rorotan, warga mulai menjalankan pemilahan sampah secara bertahap selama sebulan terakhir, dengan dukungan aktif dari kader RT dan RW.
Ardiyanto Kepala Seksi (Kasie) Penanganan Sampah dan Limbah B3 pada Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara mengatakan, KLH/BPLH bersama Dinas Lingkungan Hidup, Sudin Lingkungan Hidup dan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara akan terus memonitor dan mengevaluasi implementasi program pilah sampah ini.
“Hasil evaluasi akan menjadi acuan untuk mendorong penerapan model serupa di kelurahan lain. Program ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah dari rumah, memperkuat ekonomi sirkular, serta mendukung program nasional pengelolaan sampah dan ketahanan lingkungan,”kata Ardi, saat di konfirmasi, Jumat (27/03/2026).
Lebih jauh ia mengatakan, progres pengelolaan sampah di Rorotan menunjukkan perkembangan positif. Wilayah ini dipilih karena lokasinya yang berdekatan dengan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, sehingga dinilai strategis sebagai percontohan pengelolaan sampah terpadu.
sebanyak 11.000 ember pemilahan sampah telah didistribusikan kepada setiap Kepala Keluarga (KK).
“Sebanyak empat tong drop point juga disediakan di setiap RT untuk memudahkan warga dalam menempatkan sampah terpilah,” terangnya.
Menurutnya, upaya ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Lingkungan Hidup RI. Namun demikian, partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
“Program ini diharapkan mampu menjadi fondasi pengelolaan sampah berkelanjutan, tidak hanya pada tahap pemilahan, tetapi juga hingga proses pengolahan yang tepat guna,” ungkapnya.












