GD.ID, Jakarta-Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) bekerjasama dengan PD ABKIN DKI Jakarta dan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta menyelenggarakan Konvensi Nasional XXV, Kongres ABKIN XV, dan Seminar dan Onferenesi Internasional Bimbingan dan Konseling.
Kegiatan ini menjadi forum nasional yang mempertemukan para akademisi, praktisi, pendidik, mahasiswa, serta pemangku kepentingan di bidang bimbingan dan konseling dari berbagai wilayah Indonesia, yang secara keseluruhan dihadiri sekitar 350 orang peserta.
Kegiatan yang berlangsung pada 16 hingga 18 September 2026, bertempat di Golden Boutique Hotel Kemayoran ini mengangkat tema “Transformasi Bimbingan dan Konseling untuk Masyarakat Global yang Tangguh dan Inklusif”
Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat profesionalisme, memperluas jejaring kolaborasi, serta merumuskan arah pengembangan bimbingan dan konseling Indonesia agar semakin responsif terhadap dinamika pendidikan dan kebutuhan peserta didik.
Hadir memberikan sambutan, Sambutan Rektor UNJ, diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis, Dr. Andy Hadiyanto, M.A.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Atip Latipulhayat, S.H., L.LM., Ph.D., hadir sebagai keynote speech dengan tema “Arah Kebijakan Layanan Bimbingan dan Konseling yang Transformatif di Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah”. Hadir pula Mendikdasmen RI, diwakili oleh Staf Khusus endikdasmen Bidang Peningkatan STEM & Kompetensi Guru Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, M.A., Ph.D.
Ketua Pelaksana, Dr. Karsih, M.Pd., menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat kontribusi profesi bimbingan dan konseling dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Konvensi dan Kongres ABKIN ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi, profesionalitas, inovasi, dan keberpihakan profesi Bimbingan dan Konseling terhadap perkembangan serta kesejahteraan individu dan masyarakat.,” ujar Karsih.
Forum Ilmiah dan Penguatan Profesionalisme
Rangkaian kegiatan Konvensi dan Kongres ABKIN meliputi seminar nasional, konferensi/konvensi ilmiah, paparan hasil penelitian, workshop, serta Kongres ABKIN.
Berbagai isu strategis dibahas dalam forum, antara lain transformasi layanan bimbingan dan konseling, kesehatan mental peserta didik, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, penguatan kompetensi konselor dan guru BK, pendidikan inklusif, pengembangan karier, serta inovasi layanan bimbingan dan konseling berbasis kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ilmiah juga memberikan kesempatan kepada akademisi dan praktisi untuk berbagi hasil penelitian, inovasi, serta pengalaman praktik di lapangan. Dengan demikian, forum ini diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara riset, kebijakan, pendidikan, dan praktik profesional bimbingan dan konseling.
Kongres sebagai Ruang Konsolidasi Organisasi Profesi. Selain agenda ilmiah, Kongres ABKIN menjadi forum penting dalam melakukan konsolidasi organisasi profesi dan membahas berbagai agenda strategis pengembangan bimbingan dan konseling di Indonesia.Kongres menjadi ruang bagi anggota dan pengurus organisasi untuk melakukan evaluasi, menyampaikan aspirasi, membahas program organisasi, serta merumuskan arah dan kebijakan organisasi untuk periode berikutnya.
Melalui proses tersebut, ABKIN diharapkan semakin mampu menjalankan perannya dalam membangun profesi bimbingan dan konseling yang profesional, berintegritas, adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik serta masyarakat.
Membangun Kolaborasi Lintas Sektor
Konvensi dan Kongres ABKIN juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara organisasi profesi, perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, dunia kerja, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Perubahan sosial, perkembangan teknologi digital, dinamika dunia pendidikan, serta meningkatnya kompleksitas kebutuhan peserta didik menuntut layanan bimbingan dan konseling untuk terus berkembang.
Karena itu, penguatan kapasitas profesional tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan jejaring kolaborasi dan pertukaran pengetahuan agar inovasi dalam bimbingan dan konseling dapat memberikan dampak yang lebih luas,”ujarnya.












