Munawar: Yang Bergerak Bukan Lagi Rakyat, Tapi Iblis Kekuasaan

GD. ID, JAKARTA— Munawar mengkritik keras pola kepemimpinan dalam sebuah organisasi politik yang dinilainya telah kehilangan nurani dan menjauh dari prinsip demokrasi internal. Menurutnya, ketika mekanisme dan musyawarah tak lagi dihargai, maka kekuasaan akan berbicara dengan tangan besi.

“Ketika organisasi tidak lagi dipimpin oleh nurani, di situlah tangan besi mulai berbicara lebih keras daripada aturan,” ujar Munawar dalam keterangannya, Sabtu (7/2/2026). Di Jakarta.

Ia menyoroti peran pimpinan pusat yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi organisasi, namun justru bertindak sebagai penafsir tunggal kebenaran. Dalam kondisi tersebut, mekanisme dianggap sebagai beban, musyawarah dipersepsikan sebagai penghambat, dan kader direduksi menjadi sekadar pion kekuasaan.

Munawar menilai, dalam iklim seperti itu, yang dicari bukan lagi pemimpin yang lahir dari proses dan legitimasi kader, melainkan figur yang ditunjuk karena kepatuhan mutlak.

“Bukan karena kapasitas, bukan karena legitimasi, tapi karena kesediaan untuk tunduk tanpa tanya,” tegasnya.

Ia menggunakan istilah “iblis” sebagai simbol watak kepemimpinan yang menurutnya kini dipelihara oleh sistem tersebut. “Bukan iblis dalam arti makhluk, tapi simbol dari ambisi tanpa etika, loyalitas tanpa moral, dan kekuasaan tanpa batas,” kata Munawar.

Lebih jauh, ia menyebut figur-figur ini tidak hadir membawa gagasan atau visi perjuangan, melainkan sekadar menjalankan perintah. Legitimasi mereka, kata Munawar, bukan berasal dari kepercayaan anggota, melainkan dari restu kekuasaan pusat.

“Tugasnya hanya satu: memastikan kehendak pusat lebih tinggi dari suara kader, memastikan struktur lebih patuh daripada sadar, dan memastikan ketakutan menggantikan demokrasi,” ungkapnya.

Akibatnya, organisasi yang seharusnya menjadi rumah perjuangan berubah menjadi “kerajaan kecil”. Cetusnya.

Jabatan tidak lagi dimaknai sebagai amanah, melainkan hadiah. Kritik dipandang sebagai pembangkangan, bukan masukan.

Munawar mengingatkan bahwa sejarah telah berulang kali membuktikan, kepemimpinan tangan besi mungkin tampak kuat di permukaan, namun rapuh di dalam.

“Kekuasaan yang lahir dari penunjukan tanpa legitimasi, cepat atau lambat akan runtuh oleh kesadaran yang tidak bisa dibungkam selamanya,” pungkasnya. (ANW)

Exit mobile version