GD.ID, Jakarta– Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta yang ke-499, panggung budaya Ibu Kota bersiap diguncang oleh sebuah kolaborasi apik. Sutradara kawakan Eddy Dharmawanto SH dan penulis naskah Ardian S Perkasa bersatu dalam kelompok Lenong Dadakan untuk mempersembahkan sebuah lakon yang tidak biasa berjudul “Ondel-Ondel Kramat”.
Bukan sekadar hiburan tawa ala lenong biasa, pertunjukan ini membawa pesan tajam tentang degradasi nilai budaya di tengah himpitan ekonomi Jakarta yang semakin keras.
Ketika Simbol Budaya Menjadi ‘Sampah Visual’
“Ondel-Ondel Kramat” mengangkat realita pahit di jalanan Jakarta. Cerita berfokus pada Bang Jali, seorang pemilik sanggar yang bangkrut, yang terpaksa membawa sepasang Ondel-Ondel warisan leluhurnya untuk mengamen di lampu merah demi recehan.
Kondisi boneka raksasa tersebut sangat memprihatinkan: kain sutranya berganti perca kusam, catnya terkelupas, dan digerakkan oleh remaja putus sekolah hanya demi uang rokok. Puncaknya, di tengah kemeriahan festival mewah HUT Jakarta, simbol penolak bala ini justru dihina dan dianggap sebagai “sampah visual”.
Kami ingin mengingatkan kembali bahwa Ondel-Ondel adalah simbol kehormatan Jakarta sebagai penolak bala, bukan alat peminta-minta yang bisa disepelekan,” ujar Ardian S Perkasa selaku penulis naskah dan Co-Sutradara.
Sentuhan Mistis adegan 4 Babak
Plot semakin mencekam ketika sebuah insiden memicu kekuatan gelap merasuki kerangka bambu Ondel-Ondel tersebut. Dalam sinopsisnya, diceritakan sepasang Ondel-Ondel itu bergerak sendiri tanpa awak, mengejar mereka yang menghina martabat budaya, dan mengeluarkan suara parau dari masa lalu yang menggelegar.
Sutradara Eddy Dharmawanto SH menjanjikan visualisasi yang dramatis dengan melibatkan 17 pemain, termasuk karakter antagonis “Pak Bos” pengelola lapak ngamen ilegal, geng remaja TikTok yang abai tradisi, hingga aparat Satpol PP.
Detail Produksi
Judul Lakon:
Ondel-Ondel Kramat (Lenong Dadakan)
Sutradara:
Eddy Dharmawanto SH
Naskah & Co-Sutradara:
Ardian S Perkasa
Pemain Utama: Bang Jali (Sosok pencinta budaya yang terhimpit ekonomi)
Logline:
Sepasang Ondel-Ondel kusam yang dipaksa mengamen akhirnya “bangkit” menuntut martabatnya yang hilang.
Pertunjukan ini diharapkan menjadi refleksi bagi warga Jakarta di usia kota yang hampir mencapai lima abad: apakah kita masih menjaga identitas, atau justru menjualnya dengan harga receh?
Untuk pementasan rencana akan di adakan di kota tua salah satu pusat jakarta, pada bulan Juni 2026. Ada pun persiapan dari cari pemain dan latihan di pertengahan April.
Sekitara aparatur pemerintah dan pihak sponsor bisa ikut mensupport agar tercapai apa yang di harap kan
