Usai Kritik Pengelolaan Pelabuhan, Aktivis Buruh Ermanto Usman Tewas Mengenaskan di Rumahnya

GD.ID,JAKARTA – Dunia aktivisme buruh dan antikorupsi berduka. Ermanto Usman (65), sosok yang dikenal vokal menyuarakan dugaan korupsi dalam pengelolaan pelabuhan, ditemukan tewas dalam peristiwa perampokan di kediamannya di Perumahan Prima Lingkar Asri, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Senin (2/3/2026) dini hari.

Kasus tersebut kini ditangani Subdit Resmob dan Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Aparat kepolisian masih mendalami motif serta memburu pelaku yang terlibat.

Ditemukan Anak Saat Sahur
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa peristiwa ini pertama kali diketahui oleh anak perempuan korban yang tinggal serumah.

“Yang menemukan pertama kali adalah anak perempuannya yang tinggal di situ. Mereka bertiga tinggal satu rumah,” ujar Andi.
Ia menuturkan, biasanya korban atau istrinya membangunkan anak untuk sahur. Namun pada Senin dini hari, hingga alarm berbunyi pukul 04.00 WIB, tidak ada tanda-tanda aktivitas di dalam rumah.

“Anaknya turun untuk sahur, tapi kaget karena rumah masih gelap dan tidak ada jawaban saat memanggil orang tuanya,” jelasnya.

Pintu kamar disebut sudah dalam kondisi rusak dan tidak bisa dibuka. Keluarga kemudian membuka paksa jendela kamar.

“Saat itulah kedua korban ditemukan dalam kondisi tergeletak. Ayahnya berinisial EU (65) ditemukan meninggal dunia, sedangkan istrinya P (60) dalam kondisi kritis,” tambah Andi.

Pensiunan JICT yang Vokal
Ermanto merupakan pensiunan PT Jakarta International Container Terminal (JICT), anak perusahaan Pelindo. Ia juga dikenal sebagai Ketua Paguyuban Pensiunan Karyawan JICT.

Semasa hidupnya, Ermanto aktif mengkritisi kerja sama pengelolaan pelabuhan, termasuk kerja sama Pelindo dengan Hutchison Port Holdings.

Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada 15 Desember 2025, ia menyoroti dugaan kerugian negara berdasarkan audit investigasi BPK tahun 2018 yang disebut mencapai Rp4,08 triliun.
“Kalau kontrak itu tidak diperpanjang dan negara mengelola sendiri, potensi keuntungan bisa mencapai Rp17 sampai Rp25 triliun,” ujar Ermanto

dalam tayangan tersebut.
Ia mendesak pemerintah melakukan reformasi menyeluruh di tubuh Pelindo, audit total baik dari sisi keuangan maupun kinerja, serta mengusut tuntas dugaan korupsi dalam kerja sama JICT demi menjaga kedaulatan ekonomi nasional.

Duka dan Sorotan Publik
Kepergian Ermanto memicu reaksi dari berbagai kalangan. Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, M. Said Didu, turut menyampaikan belasungkawa melalui akun X pribadinya.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Aktivis Ermanto Usman ditemukan tewas di rumahnya. Almarhum membongkar kasus korupsi di Pelabuhan Tanjung Priok. Kasus ini harus dibongkar,” tulis Said Didu.

Hingga kini, polisi belum memastikan motif perampokan tersebut, termasuk kemungkinan adanya kaitan dengan aktivitas advokasi korban.
“Kami masih mendalami motif dan mengumpulkan alat bukti. Tim masih bekerja,” tegas Andi.

Kematian Ermanto Usman bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga memunculkan tanda tanya besar di tengah publik. Apakah ini murni tindak kriminal biasa, atau ada sisi lain yang harus diungkap? Polisi kini menjadi tumpuan harapan untuk membuka tabir peristiwa ini secara terang dan transparan.

Exit mobile version