GD. ID, JAKARTA- Pembangunan lanjutan Waduk Belibis di RW 04, Kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara kembali menuai sorotan warga. Proyek yang dikerjakan oleh pihak ketiga, perwakilan pelaksana lapangan dari PT Nindya Karya (Persero), disebut bertujuan untuk mengantisipasi banjir.
Namun warga menilai, tanpa pengerukan dan pembenahan sistem drainase secara menyeluruh, proyek tersebut dikhawatirkan hanya menjadi proyek seremonial.
Kurnia, pelaksana lapangan dan perwakilan dari PT Nindya Karya (Persero) menjelaskan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari program pengendalian banjir.
“Sebenarnya tujuan pembangunan ini untuk antisipasi banjir. Tadi masyarakat juga menyampaikan, apakah dengan adanya pembangunan ini benar-benar bisa mengatasi banjir di komplek ini. Mudah-mudahan bisa berjalan dengan baik,” ujarnya. Saat dikonfirmasi, genta demokrasi. id, di kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, (23/2/2026).
Ketua RW 04: Tanpa Pengerukan, Waduk Tak Akan Maksimal
Ketua RW 04 Semper Barat, Djumadi atau akrab disapa Uje, menegaskan bahwa warga mendukung pembangunan. Namun ia mengingatkan agar proyek tidak hanya sebatas perapihan fisik.
“Setiap pembangunan pasti ada dampak lingkungan. Kita mendukung proyek ini. Tapi kalau hanya memperbaiki waduk tanpa didukung sanitasi lain, seperti pengurukan, normalisasi kali, penurapan, serta pembesaran gorong-gorong di Jalan Cacing, sampai kapan pun banjir tetap ada,” tegasnya.
Menurutnya, pekerjaan yang saat ini dikerjakan meliputi penurapan waduk, jogging track, dan perbaikan akses. Namun, pengerukan atau pendalaman waduk justru tidak termasuk dalam item pekerjaan.
“Kalau tidak ada pengerukan waduk, ya tidak akan mengatasi banjir. Waduk itu harus diperdalam supaya saat hujan deras bisa menampung debit air lebih besar. Harusnya pengerukan dulu, jogging track belakangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembesaran gorong-gorong di Jalan Cacing, Cilincing, yang selama ini menjadi titik krusial aliran air. Selain itu, ia meminta kolaborasi serius dengan Suku Dinas Sumber Daya Air serta perhatian dari pihak Kawasan Berikat Nusantara (KBN) yang turut membuang aliran air ke sistem yang sama.
LMK: Minimalkan Dulu, Tapi Prioritaskan Pendalaman Waduk
Ketua LMK Semper Barat, Suhadi, menyampaikan bahwa proyek ini mungkin belum bisa menyelesaikan banjir secara menyeluruh, namun setidaknya dapat meminimalisir debit air yang masuk ke wilayah RW 04.
“Kalau bicara keseluruhan, memang belum bisa mengatasi banjir Semper Barat. Tapi minimal mengurangi debit air yang masuk, terutama dari Kali Progo, dan Kali Gubuk Genteng,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tiga item pekerjaan yang disebutkan tidak mencakup pengerukan waduk.
Karena itu, ia berharap dinas terkait menjadikan pendalaman Waduk Belibis sebagai prioritas berikutnya.
Suhadi juga mengingatkan agar kontraktor bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan dan dampak sosial di lapangan.
Ia mencontohkan kasus sebelumnya di mana kendaraan proyek sempat ditahan karena persoalan administrasi dengan pihak keamanan, yang akhirnya berdampak pada warga.
“Jangan hanya menguntungkan kontraktor. Harus saling menguntungkan dengan warga,” tegasnya.
Tokoh Masyarakat: Tanpa Sodetan, Solusi Tidak Akan Tuntas
Sementara itu, tokoh masyarakat Semper Barat, H. Dali Madali, menyampaikan kritik tajam.
Menurutnya, perbaikan atau renovasi waduk tanpa rekayasa aliran air hanya akan menjadi solusi tambal sulam.
“Kalau semua buangan dari Kelapa Gading dan KBN masuk ke sumber yang sama, tidak akan selesai. Harusnya dibuat sodetan-sodetan untuk memecah dan membagi aliran air, jangan semua dibebankan ke Waduk Belibis,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk kekeliruan kepemimpinan di tingkat provinsi dan menyinggung nama Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam pernyataannya.
Warga Minta Solusi Menyeluruh, Bukan Parsial
Dari berbagai pernyataan tersebut, benang merahnya jelas: warga tidak menolak pembangunan. Namun mereka menuntut penyelesaian banjir dilakukan secara komprehensif—mulai dari pengerukan waduk, pembesaran gorong-gorong, normalisasi kali, hingga rekayasa aliran air melalui sodetan.
Tanpa langkah menyeluruh dan terintegrasi, warga khawatir pembangunan Waduk Belibis hanya menjadi proyek fisik yang mempercantik kawasan, tetapi tidak menyentuh akar persoalan banjir yang selama ini menghantui RW 04 Semper Barat. (ANW)
