Ketika terjadi banjir bandang di wilayah Sumatra, Aceh, dan daerah sekitarnya, masyarakat sering bertanya:
“Kenapa sinyal hilang total? Bukannya kita punya satelit? Kok seakan satelit cuma mitos?”
Pertanyaan ini wajar — terlebih ketika situasi darurat justru membuat masyarakat sulit berkomunikasi.
Faktanya, satelit tidak hilang atau tidak berfungsi, tetapi jalur komunikasi kita sehari-hari memang tidak bergantung pada satelit, melainkan jaringan darat.
Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Sinyal HP di Indonesia Mayoritas Menggunakan Menara BTS, Bukan Satelit
Meskipun ada satelit Palapa, SATRIA-1, dan lainnya, HP yang kita gunakan tetap butuh menara BTS terdekat, bukan satelit.
Saat banjir bandang terjadi:
- Menara BTS terendam, rusak fisik, atau roboh
- Listrik padam sehingga BTS mati total
- Jalur fiber optic putus terseret arus
Walaupun satelit bekerja di angkasa, HP tidak bisa langsung tersambung ke satelit tanpa perangkat khusus.
2. Satelit Bisa Tetap Berfungsi, Tapi Perangkat Penerimanya Terputus
Satelit tetap memancarkan sinyal, namun:
- Mayoritas komunikasi internet/operator tidak menggunakan satelit, tapi fiber optic dan microwave link
- Banjir bandang merusak fiber optic → jaringan langsung lumpuh
- Tanpa koneksi antar-kota, BTS yang jauh dari bencana pun ikut “gelap”
Jadi bukan satelitnya yang gagal — infrastruktur daratnya yang rusak.
3. Cuaca Ekstrem & Awan Pekat Bisa Mengganggu Koneksi VSAT
Wilayah Aceh dan Sumatra saat banjir biasanya diselimuti:
- Awan cumulonimbus tebal
- Hujan ekstrem
- Petir dan badai
Jenis cuaca seperti ini mengganggu transmisi satelit (fenomena rain fade).
Dampaknya:
- Internet satelit VSAT jadi lambat atau putus
- Komunikasi darurat terganggu
- Sinyal emergency tidak stabil
4. HP Kita Tidak Disiapkan Untuk Koneksi Satelit Kecuali Model Khusus
Tidak semua ponsel bisa memanfaatkan satelit.
Yang bisa: perangkat dengan modul satellite messaging atau satellite LTE — kebanyakan hanya di:
- iPhone 14/15
- Beberapa HP Android terbaru (Samsung S24, Huawei Mate 60, dll)
Namun teknologi ini belum aktif di Indonesia karena:
- Perizinan frekuensi
- Kerja sama operator
- Infrastruktur ground station
Jadi masyarakat umum masih bergantung pada BTS terdekat.
5. Peran Satelit Sebenarnya Ada — Tapi Lebih Untuk Pemerintah & Lembaga Darurat
Satelit tidak hilang fungsinya saat bencana besar.
Justru digunakan untuk:
- Memantau area banjir melalui satelit cuaca dan radar
- Komunikasi darurat pemerintahan (BNPB, Basarnas, TNI)
- Memetakan kerusakan
- Mengirim data cuaca dan potensi banjir susulan
Namun perangkat satelit yang dipakai adalah:
- Radio satelit
- Telepon satelit
- Terminal VSATbukan HP biasa.
Itu sebabnya masyarakat umum tetap kesulitan mengakses sinyal.
6. Mengapa Seperti “Tidak Ada Informasi” Saat Bencana?
Karena rantainya putus:
Satelit → Ground Station → Fiber Optic → BTS → HP
Jika satu saja rusak (terutama fiber optic dan BTS), maka:
✔ Satelit tetap berjalan
✘ Tapi informasinya tidak sampai ke HP masyarakat
Inilah yang membuat satelit terasa “mitos”, padahal sebenarnya mereka bekerja normal.
7. Solusi untuk Masa Depan: Indonesia Menuju Komunikasi Satelit Untuk Warga
Beberapa langkah yang sedang dilakukan:
- Satelit SATRIA-1 untuk pemerataan internet
- Riset koneksi HP-ke-satelit (direct-to-device)
- Pembangunan BTS portable yang bisa diterbangkan ke area bencana
- Internet satelit seperti Starlink masuk ke daerah terpencil
Jika teknologi ini matang, sinyal tidak akan lagi hilang saat bencana besar.
Kesimpulan
Satelit bukan mitos — mereka tetap bekerja.
Yang lumpuh adalah infrastruktur komunikasi darat seperti:
- Menara BTS
- Fiber optic
- Listrik
HP biasa tetap butuh BTS, bukan satelit, sehingga saat semua BTS mati, sinyal pun hilang total.
Dengan teknologi baru seperti koneksi HP-ke-satelit, kondisi ini perlahan akan berubah di masa depan.
